Sabtu, 11 Februari 2012

CERPEN; Menyusuri Jalan untuk Sesuap Nasi



Mungil, nama yang sering dipanggil oleh teman-temannya. Tak henti-hentinya ia memandang sekumpulan umat di pemberhentian berwarna merah. Wajah yang kusam mengingatkan ku pada sosok pribadi kecil yang suka bermain tanah. Kumal, kusut, dan terkadang harus menerima cercaan dari orang tua. Begitulah keadaan ku sebagai si Mungil.
 Ingin rasanya kebahagiaan mereka hadir dalam mimpiku.  Akan tetapi, tak banyak jiwa  yang bersih membentangkan keluasan tanganya atas kehadiranku. Aku sedih harus selalu berdampingan dengan mu wahai pujangga hati. Engkau membawa ku ke tepi jalan untuk menukarkan lantunanmu dengan sekeping logam yang berharga. Apakah hari-hari impian itu akan datang suatu hari nanti?. Kemungkinan hati kecilku tak akan menerima. “Greng…greng”, itulah setidaknya yang bisa ku lantunkan untuk anda semua, lewat nada pujangga hati yang ku bawa ini. Keluarkan logam kecil yang ada di kantong mu walaupun hanya sekedar tempat pembuangan tak berharga di sisimu. Dari pada logam itu terbuang tanpa arah dan tujuan.
Harapan demi harapan pun terus bergulir untuk meningkatkan taraf kehidupan ini. “Baik lah Bapak-bapak, Ibu-ibu, dan semua yang ada di sini. Hanya sekedar untuk menghibur anda semua, izinkankanlah kami membawakan sebuah lagu untuk menemani perjalanan anda yang semoga perjalanan anda ini pun selamat sampai tujuan”. Berulang kali aku mendengar suara yang mirip ini ketika berada di metro mini. Tak tega hatiku merasakan penderitaan mereka, maka aku berikan secarik kertas bernilai emas bagi nurani mereka. Padahal, secarik kertas itu hanya bergambarkan Kapitan Pattimura dengan senjatanya yang berjarak pendek. “Enggak punya”, sebagian mulut berkata. Sebagian tangan pun mulai mengangkat dengan mulut terdiam atas tanda tak bisa memberi. Sedih pun mulai terasa, tapi tak punya pilihan jika orang lain tidak ingin mengulurkan tangannya.
 Satu hari, dua hari, hingga berbulan-bulan, dan bahkan seumur hidup, perjalanan dan nasib yang sama pun harus terus mengikuti mereka. Terkadang, makanan sekali hantam bisa disisakan untuk kehidupan esok walaupun sudah berbau tak sedap. Namun itulah yang bisa dilakukan sambil menunggu malaikat datang dari kejahuan hanya untuk mengabarkan jiwamu akan terpisah dari tubuhmu.
Tubuh ini terasa tak berdaya. Setiap rembulan muncul, pasti akan memandang ku di balik teras sebuah istana yang megah atau pun yang kumuh. Mata terpejam bersama dengan refleksi tubuh yang mendengkur di atas karung. Tulang pun mulai merasakan keindahan gigitan makhluk bersayap dan makhluk yang tak terlihat yang menghembuskan nafas dingin mereka. Tak heran jika mereka jarang merasakan sakit yang amat di badan, karena semua kebencian umat sudah menjadi sahabat bagi mereka.
Keesokkan harinya, lagi-lagi aku datang dengan badan yang membungkuk dengan secangkir kosong di pagi hari. Aku berjalan menyusuri terotoar umum sambil meminta belas kasihan agar ada yang mengisi cangkirku dengan emas murni. Aku juga berjalan dengan baju lusuh menghampiri manusia harapan yang sedang memasukkan suatu yang nikmat dalam mulutnya. Akan tetapi, usaha itu hanya bisa mendapatkan beberapa keping logam kecil dan Kapitan Pattimura. “Alhamdulillah”, hati kecilku bersyukur.
Suatu hari nanti datang lah seorang pahlawan muda yang punya pemikiran besar, ia kerap disebut dengan Pahlawan. Dia ingin membuat forum kesejahteraan dengan tekad yang bulat dan penuh keikhlasan. Ia adalah anak orang tak biasa tapi biasa. “Aku bercita-cita ingin menyelamatkan hidup saudara-saudaraku dari sekarang. Biarkanlah harta dan ragaku direngut habis oleh perjuangan ini, asalkan mereka sejahtera”. Begitulah tutur katanya. Setelah begitu lama manusia setengah gila ini ditunggu-tunggu kedatangannya, akhirnya ia pun datang dengan membawa keberanian di tangan kanannya dan sebuah otak yang basah ditangan kirinya. Hanya beberapa orang saja yang lumayan suka dengan modelnya dan ikut serta dalam perjuangan itu. Akantetapi, “Aku harus yakin dan bisa”, kata-kata yang selalu datang menyemangatinya.

Dari mulai sebiji jagung, hingga akhirnya sampailaih pada bola dunia. Selangkah demi selangkah, serintang demi serintang, dan pada akhirnya pencapaian demi pencapaian pun datang menghampiri. Setiap hari Pahlawan berjalan berkeliling desa di samping waktu luasnya. Ia hanyalah seorang Guru muda yang aktif berfikir dan berbuat. Tak kuasa melihat penderitaan di sampingnya, ia pun berjuang mati-matian untuk memulihkan keadaan. Dari mulai biaya pribadi hingga ia datang ke Departemen Sosial untuk meminta dukungan yang lapang. Tak heran jika kedatangan pertamanya dianggap sebagai angin yang berlalu. Akan tetapi, semangat tak akan surut dan akal tak akan lenyap. Ia akan selalu datang di waktu luangnya untuk menuntut keadilan. Hingga pada akhirnya Departemen Sosial pun percaya bahwa ia sungguh-sungguh dan bisa. Dengan selembaran proposal penyelamat dari bibir, Departemen Sosial pun mulai menyisihkan selembaran merah dan biru yang berlipat.  Sejak itulah perubahan demi perubahan tercapaikan dan hal itu pula tidak hanya berlaku di daerah terpencil, tapi hingga ke kota yang luas. Begitu pula, jejaknya yang mulia telah banyak dicontoh oleh kalangan tingkat bawah dan atas yang diberi ilham dalam hatinya.
Ia pun mulai membangun perusahaan dengan lembaran sisihan Departemen Sosial yang ia kelola. Sehingga dengan hal itu, ia tak ingin selalu berpangku tangan dengan Departemen Sosial yang selama ini turut berduka dan mengulurkan keluasan rezekinya. Hal itu pun membuahkan hasil yang sempurna. Puluhan perusahaan sudah terbangun tanpa ia meminta gaji se-logam pun. Hanya untuk saudara katanya.
Hari kebahagiaan terus bergulir menghantarkan kesejahteraan pada masyarakat. Setiap hari, bulan, tahun, dan bahkan berabad-abad. Daerah trotoar pun berubah kosong dan sunyi dari pada lantunan pujangga hati. Begitu pula dengan tempat pemberhentian kampung tengah, ia telah rindu dengan nada tersebut. Akan tetapi, ia lebih bahagia karena mereka bahagia. “Tak ku sangka si Pahlawan itu benar-benar sukses mensejahterakan si Mungil”, kata salah satu tingkat menengah.
Terima kasih pun mulai berentetan memujinya. Akan tetapi, ia tak pernah menghiraukan pujian itu. “Sejahtera kalian adalah sejahteraku. Aku akan selalu berjuang untukmu saudara”, katanya. Bergulir waktu yang begitu lama, tidak pernah lagi ditemukan manusia penjaga jalanan.





Cerpen: Ciptaan Allah Yang Bertengger di BuRhema


BACALAH DENGAN PETUNJUK DI BAGIAN AKHIR
Adventure (limited edition)
Created by Rizal Saryadi (Fak. Ilmu Budaya- Sastra Inggris 2011)

Di sore hari yang cerah, bersatulah segerombolan makhluk sempurna bulan bintang di dalam wadah Universitas Perjuangan. Mereka terlihat hendak melontarkan perjalanan panjang menuju salah satu pasak kecil BuRhema, ciptaan Allah yang berdiri kokoh di sekitar mutiara besar nan indah sebagai pancawisata dunia yang terletak di kota Magelang. Rencana hebat itu pun disambut hangat oleh empat bertua dan dua bermuda yang penuh kediaman. Dengan seketika, keenam makhluk sempurna itu pun menunggangi roda empat yang bertenaga kuda. Lalu, sang pemilik pun menyalakan tenaga supernya agar bisa melaju dengan kencang. Namun ketika jalan terbentang itu melipatkan dirinya di depan Fakultas penuh rimba, sang roda empat pun berhenti sambil menjenakkan mesin yang sedang kepanasan. Ternyata, sang pemilik yang berambut pendek itu masih menunggu satu makhluk sempurna yang kalah waktu untuk bersatu. Tidak lama kemudian, terlihatlah kenampakkannya bersama dengan  cangkir yang bertalikan benang di punggungnya. Lalu, perjalanan menuju pasak kecil pun bisa dilanjutkan.
Begitu larut di sepanjang punggung ular yang agak kehitaman, ada sedikit ke-abuan yang pendek, para makhluk sempurna itu pun melampaui mutiara besar itu sehingga mereka terengah kecuali satu makhluk yang sedang menutupi kelopak indranya di atas ranjang yang empuk. Tidak lama kemudian, tibalah mereka di likuan ular yang kecoklatan, ada banyak kehitaman, yang menunjukkan tanda kasar menuju pasak kecil tersebut. Akan tetapi, walaupun makhluk tinggi mengepakkan tubuh mereka secara berpapasan, makhluk bersayap meraung keluasan, rintihan sulaiman mendesis keharuan, maka hal itu tidak akan memutuskan tali semangat yang bersemayam di dalam jiwa makhluk sempurna itu. Oleh karena, jiwa mereka dipenuhi rasa gentayangan yang mendalam sebagai panutan perjuangan.
Mata kuning kemerahan pun semakin meredup, sehingga melejitkan perburuan makhluk sempurna itu. Tak lama kemudian, sampailah mereka di semenanjung pedalaman bumi Gombong  Kecamatan Borobudur Kota Magelang. Kemudian, ketujuh makhluk sempurna itu menginjakkan kaki mereka ke atas anak batu yang agak ke-abuan untuk membuka pagar pembatas pada Kepala pedalaman bumi Gombong agar melancarkan tapak kaki mereka. Sang Kepala bumi pedalaman Gombong melontarkan lidahnya “silahkan tapi hati-hati”. Lontaran itu memberikan pengaruh besar pada ketujuh makhluk sempurna itu, sehingga mereka melajukan langkah gentayangan mereka untuk menggapai cita-cita yang memaksa.  
Petualangan pun dimulai, tiba-tiba agak kejauhan, terlihatlah burung merpati sekiranya 8 meter panjang 30 meter tinggi yang memaknai tempat berserah-pasrah jiwa sebelah. Setelah melangkah lebih puncak, para makhluk sempurna itu pun menyaksikan burung merpati itu mengeluarkan sinar emasnya sehingga membuat para makhluk sempurna itu pun jatuh hati untuk mengarunginya lebih dalam. Tak lama kemudian, muncullah suara merdu angin bambu yang ditiup oleh satu pengarung hutan dari tiga pengarung. Maka hal itu pun membuat cinta para makhluk sempurna itu bertanya-tanya, sehingga ingin ditiupkan seuntai lagi. Tiba-tiba muncullah sebuah bintang dari seorang makhluk sempurna yang berambut panjang agar meminta panduan pada ketiga pengarung hutan itu untuk mengarungi dalamnya perut merpati. Akhirnya, terjadilah ikatan antara ketiga pengarung hutan dan ketujuh manusia sempurna itu.
Berhubung semua tali telah diikat, maka mereka pun bergegas menjelajahi perut merpati dari lobang bawah. Ketika sampai di awal kalang merpati, mereka pun menapakkinya untuk mencapai puncak kedua. Dari sana, terlihatlah bidadari luas membentang nan indah dan menawan di luar merpati tersebut. Kedua bola indra pun terbelalak seraya cinta bergetar “subhanallah, it’s wonderful”. Tak bisa diangankan betapa indah bidadari ini membentang dengan partikel-partikel tinggi yang mengelilingi merpati itu. Sungguh, itu lah kedahsyatan ciptaan Allah yang maha sempurna. Mereka pun terkagum-kagum hingga ada sebagian yang melukis ketampakkan mereka di balik depan bidadari.  
Bukan cinta merasakan hadirnya bapa jiwa sebelah, tapi jiwa tetap bersama Allah SWT, membungakan perasaan, mencuci kejiwaan, mengembangkan alam semesta. Walaupun mereka bertonggak di hadapan matematika pertumbuhan, mereka hanya jatuh cinta akan ke-emasan tubuhnya bukan aqidah kebatinan. Oleh sebab, hanya Allah yang bersinggah di hati mereka, memberikan keindahan ciptaannya di dunia.
Berada di wadah perut merpati itu, beratus kail bertitik muncul secara bertumpukkan di kewarasan mereka. “Kenapa merpati ini ditutup?”, “kenapa terjadi penghianatan?”, “bagaimana pondok remaja ini bisa jadi tempat berserah-pasrah jiwa sebelah?”, “apa sebab penghuni pedalaman bumi Gombong tidak setuju?”, kenapa Pak Alamsjah ingkar ikatan?”,...?”. Berbagai kail bertitik itu muncul hampir di setiap kewarasan makhluk sempurna bulan bintang. Oleh sebab itu, para pengarung hutan pun ikut menjulurkan lidah, hampir setiap sumber berada di rentetan kail bertitik.
Panca rama pun semakin terlelap, sehingga menggegerkan kesembilan makhluk itu untuk keluar dari perut merpati. Kaki pun beranjak menuju kulit dasar sang merpati, terlihat 14 lebih jantung kecil 1 x 1 meter memaknai tempat bersemedi jiwa sebelah. Satu makhluk sempurna bulan bintang hampir tak percaya akan adanya serupaan ghaib bergoyang di satu jantung, cerita pak Wasto. Tak peduli banyak jantung yang melekat, mereka segera menghirup alam segar di kawasan rerumputan hijau yang dihina. Pemilik roda empat itu pun, masih ingin menjelajah kawasan tetangga untuk menyaksikan anugrah Ilahi Rabbi Allah SWT. Bak kekuatan sihir menggoda cintanya untuk tak ingin kembali ke pangkuan awal. Padahal, kedua makhluk sempurna berambut panjang itu sudah tak sabar untuk menapakki jalan ke pangkuan awal. Akan tetapi, keempat makhluk sempurna itu juga mengikuti jejak sang pemilik roda empat untuk mengarungi lebih jauh ke kawasan tetangga bersama ketiga pengarung hutan. Oleh karena itu, dua berambut panjang pun melakukan penantian di samping burung merpati.
Di atas puncak kawasan sebelah, terlihat banyak hal yang lebih menawan mengenai cipataan Gusti Allah. Dua puncak berkabut, mutiara besar berwarna, rimba coconut meluas, memberikan keindahan kepada ketujuh makhluk Allah tersebut. Sungguh luar biasa, merupakan hal yang belum pernah dilihat seumur hidup bagi beberapa makhluk. Pemilik kendaraan melontarkan lidahnya “kalau pukul 05.00 pagi, kalian bisa melihat matahari muncul di antara gunung merpati dan merbabu”, satu menyambut “waw, gila keren banget !!!”. “Subhanallah”, sekali lagi terdengar pujian itu melayang ke langit, memaknai betapa takjubnya kelima makhluk sempurna itu kecuali ketiga penjelajah hutan yang sudah akrab dengan rimba belantara.
Jiwa terasa seperti sedang lapar, lalu dihidangkan sejumlah makanan enak yang penuh gizi. Tidak merasa senang kecuali kecuali orang-orang yang lapar. Oleh sebab itu, kesenangan takjub pun muncul bergelimpangan memberi warna kebahagiaan. Sungguh Allah Maha Sempurna yang mencipatakan berbagai macam keindahan alam didepan mata para penjelajah itu.
Cahaya pun telah pudar dari kemerahannya, menandakan akan terjadinya kegelapan pandangan. Sehingga demikian, para makhluk sempurna dan ketiga penjelah hutan itu pun bergegas meninggalkan keunikkan dan keindahan bidadari pedalaman bumi Gombong. Kemudian, menapakkan kaki di atas bumi menuju kediaman Kepala pedalaman bumi Gombong. Lalu, ketujuh makhluk sempurna itu pun memintanya untuk menutup pagar pembatas. Tidak beberapa lama setelah perbincangan, perjalanan menuju pangkuan awal pun dimulai dengan ditemani gelapnya panorama bumi. Pada akhirnya, perjalanan yang begitu jauh telah menghantarkan keselamatran dari Allah hingga sampai kembali di wadah Universitas Perjuangan tepatnya di depan gerbang Fakultas Ilmu Budaya. Kemudian, masing-masing mereka pun kembali ke kediaman masing-masing.

KAMUS PENYEMANGAT:
Paragraf 1: bersatulah: berkumpullah, makhluk sempurna: mahasiswa, bulan bintang: muslim, Univ. Perjuangan: UGM, melontarkan: merencanakan, pasak kecil: bukit, BuRhema: Bukit Rhema, mutiara besar: Borobudur, pancawisata: tempat wisata, tiga bertua dan dua bermuda: tiga mahasiswa senior dan dua mah. Junior, roda empat: mobil, Fakultas penuh rimba: Fak. Kehutanan, berambut pendek: pria, kalah waktu: terlambat, cangkir yang bertalikan benang: tas.
Paragraf 2: punggung ular: jalan raya, melampau: melewati, terengah: terperangah, ranjang: kursi mobil, likuan: persimpangan, ular yang kecoklatan: jalan tanah, kehitaman: aspal, tanda kasar: suasana mengerikan, makhluk tinggi: pohon kayu, mengepakkan: bergesek-gesekkan (timbul suara), makhluk bersayap : burung, meraung keluasan: bersuara kencang, rintihan sulaiman: suara angin, gentayangan: penasaran.
Paragraf 3: Mata kuning kemerahan: matahari, melejitkan: rasa ingin cepat-cepat, pedalaman bumi: dusun, anak batu: tanah, membuka pagar pembatas: minta izin, melancarkan tapak kaki mereka. melontarkan lidahnya: berkata, cita-cita: hasrat. 
Paragraf 4: burung merpati: gereja tua yang telah dipaksa tutup oleh masyarakat setempat dan bentuknya seperti merpati, jiwa sebelah: kristiani, sinar emasnya: penuh keantikkan, mengarungi: mengetahui lebih dalam, merdu angin bambu: seruling,  pengarung hutan: orang yang baru selesai berburu, cinta: hati, bintang: ide, berambut panjang: wanita, ikatan: kesepakatan.
Paragraf 5: lobang bawah: pintu lantai bawah, kalang merpati: tangga, bidadari: pemandangan, bergetar: berkata, diangankan: dibayangkan, partikel-partikel tinggi: rimbunan pohon, melukis: berfoto-foto, ketampakkan: diri/jasmani.
Paragraf 6: bapa: tuhan, membungakan perasaan: berzikir, mencuci kejiwaan: bertasbih, mengembangkan alam semesta: bertakbir, bertonggak: berdiri, matematika pertumbuhan: salib, ke-emasan tubuhnya: keindahan fisik, aqidah kebatinan: karena keyakinan.
Paragraf 7: perut: ruangan, beratus kail bertitik: banyak pertanyaan, kewarasan: akal pikiran, Pak Alamsjah: nama pemilik gereja, bulan bintang: muslim, menjulurkan lidah: menjelaskan/menjawab, sumber: jawaban/penjelasan.
Paragraf 8: Panca rama: suasana, terlelap: gelap, menggegerkan: membuat terburu-buru, kulit dasar: lantai, jantung kecil: ruangan kecil, Satu: seorang/sebuah, serupaan ghaib bergoyang: ular jadi-jadian, pak Wasto: guide, rerumputan hijau: rumput yang terdapat di sekeliling gereja, kawasan tetangga: kawasan sebelahnya, pangkuan awal: kembali/pulang.
Paragraf 9: Dua puncak berkabut: Gunung merapi dan Gunung Merbabu, rimba coconut: pohon kelapa, mutiara besar berwarna: candi Borobudur.
Paragraf 10: menutup pagar pembatas, menuju pangkuan awal: pulang, kediaman: tempat tinggal.


  
“Allah adalah Sang Ahli penata dunia  yang menebarkan keindahan penuh makna “ (Rizal Saryadi)

Minggu, 02 Oktober 2011

Cerpen; Bergelora Dalam Jiwa




Di jurusan Sastra Inggris UGM, mataku terpana ketika memandang sosok wanita cantik yang menawan. Hati ini tak mampu rasanya memisahkan antara nafsu dan iman. Kemolekannya, parasnya, dan cara berpakaiannya sungguh membuatku tertegun tanpa berbicara. Akan tetapi, imanku bertausyiah “jagalah pandanganmu agar engkau tidak terjerumus kedalam lubang yang salah. Jasad dunia tak akan selamanya membahagiakanmu. Akan tetapi, jasad akhirat akan selalu menjadi jalan pilihanmu. Pilih neraka atau surga !!!”.
Aku sadar akan nasehat gaib yang berdengung di hati ku ini. Akan tetapi, aku masih tak sanggup membelokkan pandanganku dari pada rezeki setan yang sudah ada di depan mata. Mataku melotot bagaikan air yang mengalir tak ada hentinya. Teman ku si Sugeng berkata:
“Gila friend !!, itu cewek seksi banget. Wuu..s, keren men !!, kata sugeng
“Eits...sadar friend, istighfar..?, nanti di akherat matamu ditusuk sama Malaikat, mau nggak”, Aku merespon dengan nada bercanda.
“Walah..?, Sok alim juga kau zal biasanya kerjaanmu mengintip orang mandi”, bercanda.
“Weleh..?, Kox faktanya terbalik sih, bukankah kamu sugeng yang suka ngintip orang mandi?”, Sambil tersenyum.
“Hahahaha....hahaha”, kami tertawa keras tanpa sebab.
Sugeng pun melanjutkan, “Sudah...sudah..sudah !!!, let’s go to our classroom nanti kita terlambat friend”.
“By the way, kita akan belajar diruangan apa sekarang?”, aku bertanya.
                “Oh iya..?. Sebentar aku lihat jadwal dulu”, sambil membongkar isi yang ada dalam tas.
“Waduh zal, jadwal ku di mana ya?...jadi kacau sekarang. Ini pasti karena aku sering berbarengan sama kamu. Jadi penyakit lupamu pindah ke aku, iya kan?”, dia mengoceh sambil tersenyum.
Aku berkata dalam hatiku, “dalam waktu yang sempit seperti ini, masih bisa juga kamu bercanda”, lalu aku pun melanjutkan dengan teriakan keras “AMIEN...yaa..Rabb ..!, mudah-mudahan saja menjadi kenyataan”.
“Eh, aku kan Cuma kidding tadi. Kok kamu menjawab dengan sungguh-sungguh..?, Ia berkata dengan nada biasa.
“Aku juga bercanda kok, tenang saja (sambil tertawa). Eh..tungu sebentar, aku mau melihat jadwal punya ku dulu”, sambil memilah-milah isi yang ada di dalam tas.
“Waduh sugeng, mana ya jadwal ku tadi?. Padahal tadi aku letakkan di dalam sini”, dengan perasaan bingung.
“Coba cari lagi zal, mungkin terselip di dalam bukumu. Coba ceck lagi ya”, kata Sugeng.
“oh iya, ini dia terselip di dalam buku Grammar ku”, sambil melihat jadwal.
“Ini ruangannya, Sugeng. Ruangan Margono 301, pelajaran Listening. Ayo cepetan !!!, kita sudah terlambat 3, 212 menit”, aku mengintruksi waktu sambil bercanda.
“Ayoo..?”, jawab sugeng.
Kegelisahan pun turut menghadiri gurindah hati. tak sanggup kami berpegang pada jiwa yang rapuh ini. Mencari jalan ketenangan dari pada srigala yang akan menghantam. Semakin kami dekati gubuk srigala itu, semakin kencang pula perasaan takut yang menghadiri jiwa kami. Betapa malang nasib tanggap ini, tak dapat menentukkan keamanan dalam sekejap. Kami ragu untuk menyatu ke dalam kandang mewah itu. Tapi apa boleh buat, kami mencoba menaklukkannya.
“ Rizal, masuk tidak ya?. Aku ngeri zal nanti kita disuruh ngapa-ngapain lagi”, kata Sugeng dengan nada sedikit gugup.
“Ya elah, begitu saja takut. Tenang saja friend sekarang ini kan ada aku, hahahaha”, dengan nada agak lebay.
“Ayo kita tos dulu, setelah itu baru kita masuk berbarengan, okey”, sambil menepuk telapak tanganku pada telapak tangannya.
Dengan bunyi lentikkan telapak tangan tadi, telah membuat keberanian kami tumbuh menjadi bunga yang mekar. Rasa takut yang mulanya menggelora dalam jiwa, sedikit demi sedikit menghilang dari sanubari. 
Aku pun mengucap salam dengan keras,” Assalamualaikum...!. Lalu di lanjutkan dengan sugeng yang agak sedikit berbeda bunyinya,”Wa’alaikum salam !”.
“Eh itu salah ?. Apakah Kamu nggak sadar dengan apa yang kamu katakan tadi. Nanti kalau dosennya bertambah marah, bagaimana dengan nasib kita?”, dengan suara lirih dan agak cepat.
“Ya udah iam so sorry okey. I don’t know that you will be angry with me because this problem”, Sugeng minta maaf sambil bergaya menggunakkan bahasa inggris karena dosen sedang  menghampiri kami berdua.
“Sorry childrens, why do you come late?”, kata dosen.
“Sorry sir, because we confuse looking for the schedule”?, aku menjawab mewakili Sugeng.
“How can it happen ?. Do you have schedule ?, dosen marah dengan suara yang agak lembut.
“Oh yes sir, but some time ago we forgot about the number and building’s name of class. So i order to Sugeng to look on his schedule, but no schedule in until he felt confusing. Then, i look my own schedule and  i get it. So, these are our reasions about this coming late”, aku berusaha meyakinkan dosen.
“Ok.Ok..!, but i can’t accept your reasions. Late is late, i don’t care about your reasons !!!. Are you ready getting the punishment ?, kata dosen.
“Ok sir, what a punishment will we get from you ?, Aku bertanya dengan nada tegas tapi bulu kudukku merinding.
“ Ok.., both of you have to  sing a song in front of the class. Can you do it ?.
“ Oh my god, bagaimana bisa aku melakukannya. Sedangkan aku tidak bisa bernyanyi”, aku berkata dalam hati.
Sejenak fikiran ku terbang memikirkan hukuman ini. Rasanya tak sanggup aku melakukan hukuman pertama di kelas ini. Bujukan gaib pun datang menghampiriku dengan jurus-jurus beracunnya yang menggoda. Aku semakin bingung dan bingung, “Apa yang harus kulakukan?”, kata hatiku
“Sugeng, bagaimana dengan hukuman ini, Apakah kamu bisa bernyanyi ?”. aku berbisik dengan sugeng tapi tiba-tiba dosen memotong pembicaraan kami sebelum sugeng selesai menjawab.
“Have you prepared it?”, dengan nada santai.
“Sorry sir i can not sing. Maybe can you give me another punishment ?”, aku berkata dengan semakin gugup. Aku takut jika tawaran ku ditolak.
“Oh yeah !, but what punishment do you want ?”, jawab dosen.
“Dancing, sir. When Sugeng sing a song then i follow it by dancing”.
“Oke..oke.., do it now !”, kata dosen dengan nada yang semakin tegas.
Sugeng pun mulai menyanyi dan aku pun mengikutinya dengan gaya tarian khas yang aku miliki. Aku menari seperti bebek yang disembelih. Teman-teman pun tertawa melihat adegan kami.
Setelah beberapa saat kemudian, hukuman pun telah usai kami lakukan. Akan tetapi, dosen listening itu pun masih juga memarahi kami. Hati ku terasa ganjal sekali akan hal ini. Ingin rasanya aku marah tapi apa boleh buat, aku hanya sekedar murid yang harus tunduk pada seorang guru selama apa yang ia lakukan adalah benar. Aku pun mengambil pelajaran baik dari kejadian ini agar aku harus lebih teliti lagi dengan jadwal dan waktu kuliahku.











               

Jumat, 23 September 2011

Cerpen; Dua Pelajar Tangguh



By Rizal Saryadi
Sastra Inggris UGM 2011
Pagi yang begitu cerah, diiringi dengan semburan nafas alam yang menyejukkan, aku berdiri di depan kereta kencana biru (sepeda) yang bermerek Wimcycle. Dengan wajah pas-pasan, aku pun langsung menaiki kencana tersebut akan tetapi ternyata, oh handphone ku berdering "tilulit...tilulit...", Lalu apa yang terjadi?. ternyata dan ternyata lagi aku pun melihat handphone ku. Ya..hhh ternyata di dalamnya terdapat satu pesan dari sahabat sejati ku yang always menghiburku baik di kalajengking atau pun di kalagondan. Eh salah, maksudnya di kala senang atau pun sedih. Rupanya isi pesan tersebut hanya menyampaikan bahwa ia ingin di jemput untuk berangkat kuliah bareng-bareng. karena kebetulan, kami berada pada jurusan yang sama, yaitu English Department of UGM.
Ia adalah Sugeng, sahabatku yang sangat baik hati, ganteng, imut, dan tidak sombong. Dia sangat suka mentraktir ku minum kopi Cappucino di kantin BonBind, tapi kalau lagi punya banyak uang sich. So begitu pula sebaliknya, aku pun suka mentraktirnya di kantin tapi kalau aku lagi punya uang banyak juga. Kalau lagi nggak punya, kamipun makan and minumnya bayar masing-masing. by the way, kayanya ceritanya makin nggak nyambung dech. Dari mulai cerita sepeda terus nyambung ke profil teman. Idiiih...nggak seru yaa!!!. Kalau begitu sekarang kita kembali ke LAPTOP !!!.
Setelah aku membaca sms darinya, akupun langsung berangkat menuju kosnya yang kebetulan tidak terlalu jauh dari tempat ku. Dengan kekuatan Superman, akupun mengayunkan sepeda ku dengan gesit sehingga banyak sekali sepeda motor dan mobil yang aku lewati. wow...sungguh luar biasa bohongnya ???, hehehe. Tak lama kemudian, sampailah aku di tempatnya."Hallo Bro, Fuck you..!!!", sebuah panggilan yang biasa kami lakukan ketika bertemu. Memang sich kedengarannya bahasanya sangat nggak enak didengar, apalagi kalau orang amerika yang mendengarkan, pasti ia akan berfikiran negatif tentang kami. Akan tetapi teman-teman, itu hanya sebuah panggilan biasa aja kok bagi kami. but, jangan coba-coba ya untuk ikut- kutan karena budaya ini nggak baik dibawa ketanah air kita, Indonesia. Dan bentar lagi, kami juga insyaallah akan menghilangkan budaya ini dari  kebiasaan buruk kami sehingga nggak berbahaya bagi akhlaqul karimah anak-anak yang lain, because gue takut ketularan?. Hehehe...
Lanjut cerita,
setelah selesai menyapa dan sebagainya, kami pun bergegas berangkat menuju kampus. Dalam perjalanan ini, banyak sekali hal-hal yang menurut ku sangat seru pada event tersebut, termasuk tentang kegilaan kami dalam mengendarai sepeda. 
Ketika itu, aku duduk di belakang sebagai pendayung sepeda, sedangkan sugeng duduk diatas kerangka sepeda bagian depan. Dia bertugas sebagai pengendali setirnya, biar kelihatan agak unik githu lho. Wow...!! sungguh menakjubkan, orang-orang disekeliling kami pada bengong dan tertawa melihat cara kami berboncengan. Mungkin kelihatannya agak aneh, karena yang aku lihat nggak ada satu pun mahasiswa yang pakai sepeda sambil berboncengan seperti anak kecil pada umumnya. Maklum, masa kecil dulu kurang bahagia.
 "Rizal kamu nggak malu ya dilihat sama orang. Kok kita berboncengan kayak orang nggak waras aja". Sugeng menggerutu, mungkin dia malu dengan ide ku. Apalagi yang melihat bukan hanya cowok, tapi cewek-cewek juga banyak yang geleng-geleng kepala dengan sikap kami ini. huh...aku sih pede-pede aja, lho..lho and gue..gue. Itulah motivasi gila yang sering muncul dalam benakku. Kemudian karena aku melihat sugeng agak malu-malu, maka akupun meyakinkannya.
" Sugeng..?, kalau kita ingin maju, jangan pernah merasa malu dalam berinovasi. Selagi hal-hal tersebut bukan tindakan kriminal. So, kamu nggak usah malu-malu karena ini adalah langkah awal kita untuk meraih kesuksesan. Jadi kamu ikutin aja jalur mainnya okey". Aku menjawab dengan penuh keyakinan walaupun sebenarnya aku sendiri kurang yakin. Akan tetapi, aku punya sebuah tekad yang mensupport ku dalam melakukan hal aneh ini yaitu, tekad untuk mewujudkan sebuah kata motivasi yang pernah aku dengar."Yakinilah apa yang anda lakukan, maka kesuksesan pun akan datang menghampiri anda". Motivasi inilah yang membuat ku sekarang menjadi orang yang agak aneh dalam berinovasi, karena aku terus berpegang teguh pada prinsipku untuk memunculkan hal-hal yang asing bagi orang lain.
Lanjut....
Setelah sekian lama melakukan perjalanan yang memalukan ini, akhirnya kami pun sampai di tempat tujuan. Kemudian setelah selesai memarkirkan sepeda, kami pun langsung berangkat menuju kelas agar tidak terlambat.